Kompleks Rumah Jacky Chan Ditinggal Penghuni

oleh -1.111 kali dilihat

Acehwow.com | Banda Aceh – Kampung Persahabatan Indonesia-Tiongkok, merupakan sebuah kompleks perumahan di desa Neuhen, kecamatan Mesjid Raya, kabupaten Aceh Besar yang dibangun era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) atas kerjasama antara pemerintah Indonesia dengan pemerintah Cina setelah SBY melakukan kujungan ke Cina.

Pembangunan perumahan ini juga ikut didanai oleh Jacky Chan. Oleh karena itu, masyarakat Kota Banda Aceh dan sekitarnya sering menyebutnya Rumah Tiongkok atau Rumah Jacky Chan.

Perumahan yang dibangun diatas ketinggian 300 meter dari permukaan laut ini merupakan rumah-rumah bantuan untuk korban Tsunami, dibangun dengan tipe 42 (luas 42 m2) sebanyak 600 unit. Kompleks perumahan ini juga dilengkapi fasilitas yang cukup lengkap diantaranya ada mesjid, gedung pertemuan, Taman Kanak-Kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), poliklinik, lapangan bola kaki, lapangan bola basket, dan pasar seluas 22 hektare.

Pada awalnya, pembangunan rumah bantuan ini dikhususkan hanya untuk etnik Cina yang menjadi korban Tsunami namun hanya 100 KK etnik Cina yang mendaftar, hingga sisanya (500 KK) diperuntukkan untuk warga pribumi. Tapi sangat disayangkan, kini rumah-rumah bantuan tersebut banyak yang tak berpenghuni lagi. Bahkan tak sedikit diantara mereka yang menjual rumahnya dengan harga yang sangat murah, dengan kisaran harga 10-20 juta.

Darmawan, Kepala kompleks perumahan tersebut menyatakan bahwa pada tahun 2017 tercatat tinggal 525 KK yang masih menetap di kompleks. “jarak yang terlalu jauh dengan pusat kota Banda Aceh, sehingga warga meninggalkannya begitu saja hingga rumah menjadi tidak layak huni lagi. Dari 100 KK hanya 60 KK dari etnik Cina yang masih menetap disini ujarnya.

Rumah-rumah yang ditinggalkan kondisinya cukup memprihatinkan, cat pada dinding rumah tampak memudar dan mengelupas. Sebagian rumah yang ditinggal kini menjadi “tempat tidur” hewan-hewan ternak (baik itu milik warga setempat maupun bukan), hal ini mengakibatkan kotoran hewan-hewan tersebut berceceran di perkarangan dan teras rumah. Warga etnik Cina yang meninggalkan rumah mereka, menggunakan anjing sebagai penjaga. Namun ada juga diantara mereka yang masih mengunjungi rumahnya meskipun hanya sesekali.

Nurma (38) warga komplek perumahan menyatakan, rumah-rumah yang tak berpenghuni ini juga menyisakan sampah diparit dan tak ada yang membersihkannya. sampah-sampah baru dibersihkan hanya ketika ada kegiatan gotong royong saja ungkapnya. Nurma juga menyebutkan bahwa, rumah yang tak dihuni tersebut disebabkan pemiliknya mayoritas beraktivitas di Kota Banda Aceh. dan kalau malam harinya jalan ke arah Neuhen ini sangat sepi. Ditambah lagi dengan adanya hewan-hewan liar yang sering kali meresahkan pengguna jalan tambahnya.

Tak hanya sampai disitu, rumah-rumah bantuan yang dibangun diatas bukit ini ternyata juga sangat sulit air. “saat tukang gali sumur dirumah saya menggali sumur, terdapat batu-batu besar yang menyulitkan mereka. Namun karena adanya anggaran atau dana desa sekarang sudah di gali sumur bor. Pemakaian air sumur bor sangat terbatas dan pembagian air juga berjatah-jatah ujar Nining (40) warga setempat.

Namun, kompleks perumahan ini memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan lokal maupun asing. Lokasinya yang berada diatas bukit menyajikan pemandangan yang cukup indah terlebih ketika malam hari. Tak jarang juga sineas-sineas Aceh menjadikan Kampung Persahabatan Indonesia-Tiongkok ini sebagai lokasi shooting (pengambilan gambar), salah satu film pendek karya mahasiswa Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Ar-Raniry Banda Aceh ini pun juga pernah menjadikan tempat ini sebagai lokasi shooting mereka. [Elvi Affida/PSM]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *