,

PHILIPPINA DIBAWAH BAYANG-BAYANG GEMPA “Kita baru tahu gempa setelah gempa terjadi”

oleh -336 kali dilihat
Peta cincin api (Ring of Fire) Philipine. Foto:https://ph.news.yahoo.com/magnitude-7-9-earthquake-detected-in-ph.html

ACEHWOW.COM-BANDA ACEH, Bencana alam khususnya bencana geologis semakin sering terjadi dalam sepuluh tahun terakhir. Sejak gempa Aceh 26 Desember 2004 dengan kekuatan 9,3 Skala Ruchter (SR), gempa sering melanda negeri kita silih berganti.

Semua gempa yang terjadi tersebut tidak pernah dipediksi sebelumnya seperti gempa Nias 8,2 SR pada 28 Maret 2005, gempa Yogya 5,9 SR pada27 Mei 2006, gempa Padang 7,6 SR pada 30 September 2009, gempa Pijai 6,5 SR pada 7 Desember 2016 dan banyak lagi gempa-gempa besar yang sering melanda negeri kita hingga yang baru saja terjadi gempa Lombok. Gempa Lombok menjadi diskusi mendalam para ahli kegempaan karena gempa Lombok diluar kebiasaan gempa yaitu gempa pertama tanggal 29 Juli 2018 dengan kekuatan 6,4 SR kemudian pada tanggal 5 Agustus 2018 terjadi lagi gempa lebih besar 7 SR.

Berdasarkan kejadian gempa biasanya setelah gempa besar maka akan disusul dengan gempa-gempa kecil yang sangat sering terjadi karena kondisi patahan bumi menuju kestabilan. Tapi yang terjadi di Lombok sebaliknya terjadi gempa kedua yang lebih besar, maka ada ahli yang mengatakan gempa 6,5 SR adalah gempa awal (foreshock)sedangkan gempa 7 SR adalah gempa utamanya (mainshock).

Sebagian ahli lain mengatakan bahwa gempa pertama dan kedua terpisah masing-masing memiliki pusat gempa tersendiri tapi saling mempengaruhi dalam seismologi dikenal dengan sebutan gempa Doublet atau ada yang menyebut gempa kembar seperti kasus gempa Aceh 11 April 2012 yang terjadi dilantai samudera Hindia terjadi susul menyusul hanya selisih sekitar 1 jam pertama gempa 8,6 SR lalu disusul gempa 8,2 SR. Berbagai pandangan para ahli kegempaan tersebut menunjukkan kepada kita bahwa ilmu manusia tentang kegempaan ini masih sangat sedikit sekali. “Kita baru tahu gempa setelah gempa terjadi”.

Bencana geologis adalah bencana alam yang disebabkan oleh kondisi geologis suatu daerah. Bencana geologi meliputi gempa bumi, letusan gunung api, tanah longsor dan tsunami. Daerah yang memiliki kerawanan terhadap bencana geologis adalah wilayah yang berada pada zona “Cincin Api” atau dikenal juga sebagai Ring of Fire. Indonesia dikenal sebagai bagian dari Ring of Fire dunia, karena itu daerah kita merupakan bagian yang tidak pernah sepi dari bencana geologis terutama gempa bumi.

Menyadari kondisi ini sebenarnya harus terbangun kesadaran diseluruh bangsa ini bahwa bencana tidak mungkin kita hindari, namun resikonya pasti bisa kita kurangi. Karena itu ada istilah “gempa tidak membunuh tetapi runtuhan bangunan yang menyebabkannya”. Maknanya apabila kita membangun dengan standar bangunan tahan gempa maka korban bisa dihindari. Demikian juga longsor sesungguhnya tidak membunuh tetapi kebijakan yang membiarkan penduduk bermukim di lereng-lereng bukitlah sesungguhnya yang menyebabkan korban.

Tugas negara adalah melindungi rakyatnya seperti tertuang dalam Pembukaan UUD 1945 “melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia…” Dengan sering berulangnya bencana maka menjadi momentum penting bagi kita untuk merubah cara pandang, cara fikir dan cara kerja dalam kebencanaan di Indonesia. Di pemerintah pusat ada BNPB dan di pemerintah daerah ada BPBD, kiranya perlu terus melakukan re-evaluasi terhadap kebijakan kebencanaan di tanah air. Kita masih melihat dan merasakan setiap ada bencana kita seperti “tidak siap”. Pola responsif masih kental kita rasakan yaitu menangani bencana setelah bencana terjadi. Sudah saatnya kita bergeser kepola preventif dengan membangun kesadaran masyarakat disemua lini.

Kesan inilah yang kami rasakan dalam kunjungan lapangan membawa peserta Diklat Reform Leader Academy (RLA) dengan tema membangun masyarakat Tangguh Bencana ke Manila ibukota Philippina. Philippina dan Indonesia banyak kesamaan. Sama-sama negara kepulauan, kalau kita terbentang timur kebarat secara horizontal. Philipina memanjang vertikal utara – selatan. Kondisi tektonikpun sama karena berada dizona “ring of fire”. Gempa, letusan gunung api dan longsor pernah melanda Philippina, bahkan Philippina memiliki potensi bencana “climatologic” berupa angin taipun atau angin topan yang hampir setiap tahun datang menerpa wilayah Philippina.

Pemerintah Philippina ternyata sangat serius terhadap bencana alam dan terus berupaya mempersiapkan masyarakat tangguh bencana. Apalagi dengan banyak kejadian gempa bumi di negara tetangganya yaitu Indonesia, tentu Philippina banyak belajar dan mempersiapkan diri agar lebih siap bilamana suatu ketika bencana menerpa. Para peneliti kegempaan telah memprediksi bahwa Kota Manila “tinggal menunggu” bencana gempa besar sekitar 7 SR. Berbagai upaya terus dilakukan mulai dari evaluasi bangunan, sosialisasi hingga simulasi bencana (drill) yang terus digencarkan oleh Pemerintah Philippina.

Bencana yang sering terjadi di Philippina adalah angin topan yang kadang sampai 20 kali dalam setahun bisa terjadi. Dalam hal bencana angin topan Pemerintah Philippina telah memiliki ketangguhan, mereka telah membuat sistem yang baik dan informasi yang selalu bisa di ketahui oleh masyarakat dengan “smart phone” atau ponsel. Memang bencana angin topan berbeda dengan gempa, kalau angin topan bisa di prediksi, sedangkan gempa bumi sampai saat ini tidak bisa diprediksi. Tetapi dari pengalaman mereka dengan kesiagan mempersiapkan menghadapi bencana angina topan, maka mereka terapkan juga untuk kesiagaan bencana gempa, paling tidak masyarakat harus tahu apa yang mereka lakukan ketika gempa terjadi.

Philippina terus berupaya membangun masyarakat tangguh bencana melalui kesadaran bahwa bebas dari bencana (free from disaster) tidak mungkin dilakukan, karena bencana alam ada disekitar mereka. Maka kesadaran hidup bersama bencana (living with disaster) menjadi kesadaran masyarakat di Philippina. Kebijakan membangun masyarakat tangguh bencana di Philippina sampai ketingkat desa (Barangay). Jaringan pengurangan resiko bencana (Disaster Risk Reduction) di Philippina sudah terbangun sangat baik mulai tingkat Nasional-Regional-Provincial-City-Municipal-Barangay. Pola ini yang masih sangat kurang di Indonesia. Memang koordinasi kata yang sangat mudah kita ucapkan tetapi dalam implimentasi sangat sulit dilaksanakan.

Ir. Faizal Adriansyah, MSi (Anggota Dewan Pakar Forum Pengurangan Resiko Bencana Aceh melaporkan dari Manila)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *