Aktivis Muda Gayo Nilai, Safari DPRK Aceh Tengah ke Banda Aceh dan Lhokseumawe, Kegiatan Mubazir

oleh -24 kali dilihat

ACEHWOW.COM-Akbar Bintang salah seorang aktivis muda dari Aceh Tengah nilai, kegiatan safari “ria” sejumlah Anggota DPRK Kabupaten dimaksud ke Kota Banda Aceh dan Kota Lhokseumawe hanya sekedar menghabiskan anggaran, alias belum perlu dijalankan, apalagi ditengah Pandemi Covid-19 (CORONA).
“Apa Urgensi dan tujuannya, sehingga anggota DPRK harus melaksakan safari kedua kota tersebut, yang notabene masih dalam satu Provinsi”, tambah aktivis Gayo Akbar Bintang tersebut, lewat realis yang diterima ACEHWOW.COM, Kamis (18/06) pagi.
Akbar yang juga aktivis mahasiswa dimaksud menyoroti polemik Buapati dengen Wakil Bupati Aceh Tengah sekarang sedang berselisih,
yang seharusnya diperjuangkan oleh anggota DPRK adalah kesejahteraan rakyat, disaat level eksekutif sedang dalam keadaan tidak menentu.
Namun, seolah olah anggota DPRK tidak tau fungsi tugas yang sebenarnya?
Dimana bukan persoalan bersafari, namun niat anggota DPRK yang menurut saya tidak tepat mengambil langkah harus memaksakan bersafari disaat keadaan saat ini.
Kan lebih baik, melakukan koordinasi perdamaian antara Bupati dengen Wabub, atau dua belah pihak, masih bisa melakukan via zoom dan online lainnya, jika memang mediasi dengen cara tatap muka sulit dilakukan oleh DPRK.
Jangan terpaku dengen Pansus, mengingat anggota DPRK jika ada permaslahan apapun di Aceh Tengah, bumingnya selalu melakukan Pansus, Padahal Pansus tersebut menurut saya ( “Akbar”), hanya menghabiskan anggaran belaka, contoh kasus atau permasalahan tambang juga sudah dilakukan Pansus, namun hampir dua tahun belum ada stetmen pansus dan pertanggung jawaban secara detil,
Nyatanya demikian, lagi- lagi kita dibodohi dengan boming pansus.
Ketua dan anggota DPRK sebenarnya harus cerdas mengambil posisi dan peran dalam keadaan seperti ini di Aceh Tengah.
Sebaiknya DPRK Aceh Tengah menjalankan legislasi atau peran sebagai wakil rakyat, segera memanggil Bupati dan Wakil untuk dilakukan mediasi secara sempurna dan memideasiasi untuk meluruskan atau menyelesaikan persengketaan pejabat nomor satu dan dua di Eksekutif Pemkab Aceh Tengah dimaksud, harap Akbar.
Jangan hanya kegiatan yang bisa amprahan uang belaka dijalan oleh legislatif, padahal saat kondisi begini lebih banyak hal yang dapat dilakukan dari plot anggaran tersebut, dimana mengarah langsung untuk kemaslahatan masyarakat” .
“DPRK jangan masuk dalan lingkaran yang negatif”, sehingga tidak terbentuk semacam sebuah orkestra yang menggambarkan betapa lucunya roda pemerintahan di Aceh Tengah saat ini”.
Pansus ke Lhokseumawe dan Banda Aceh, “dengen label mengejar kemana Bupati pergi baik ke Banda Aceh dan daerah lain”?
‘Padahal Bupati saat ini masih di Aceh Tengah, bahkan beberapa hari lalu sedang membagi-bagikan masker kepada warga”.
“Anggota DPRK kita sangat lucu kala mengambil satu kebijakan”, tegas Akbar lagi.
Sembari mengulas, memaksakan untuk bersafari disaat kondisi pandemi Covid-19 saat ini, tentu sangat miris melihat tingkah wakil rakyat, yang seharusnya merakyat, tutup aktivis muda gayo Akbar panjang lebar.
Sementara ketua Pansus mediasi perselisihan Bupati dengen wakil Bupati DPRK Aceh Tengah Sukurdi, menggapi kritikan aktivis dimaksud menjelaskan, Apa yang diprogramkan dan dilaksanakan sudah sesuai dengen aturan perundang-undangan dan fungsi legislasi Legislatif, serta tidak menyalahi aturan negara.
Jelas Sukurdi, yang mengakui juga ketua dan anggota DPRK Aceh Tengah selalu menerima dan kritikan dari seluruh elemen masyarakat.
“Telah diketahui sebelumnya dan informasi berkembang, sejumlah anggota DPRK Aceh Tengah melakukan “reses” atau safari tersebut, dari tanggal 16-21 Juni, dalam upaya mencari solusi permasalahan di Kabupaten tersebut, serta mengimput keberhasilan program pembangunan di dua Kota dimaksud, sebagai implementasi percepatan pembangunan di Aceh Tengah kedepan, demikian tutup Sukurdi. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *