Di Sini Letak Monumen Jendral Kohler

oleh -1.137 kali dilihat
Letak Monumen Kohler pasca renovasi Mesjid Raya Baiturrahman

Sejarah mencatat, Belanda mengeluarkan maklumat perang terhadap Kerajaan Aceh, pada 26 Maret 1873. Dua pekan kemudian, 3.000 lebih pasukan Belanda dipimpin oleh Major Jenderal Johan Harmen Rudolf Kohler mendarat di Pante Ceureumen, Ulee Lheue, Banda Aceh.

Belanda kemudian melancarkan serangan ke Masjid Raya Baiturrahman yang menjadi tempat pertahanan pasukan Aceh pada 14 April 1873. Peperangan pimpinan Teungku Imum Luengbata, pejuang Aceh yang memberikan perlawanan sengit.

Ketika pasukan Aceh mengundurkan diri dari Masjid Raya Baiturrahman, Teuku Imeum Luengbata selaku komandan, tidak langsung mundur. Ia bersembunyi dibelukar sekitar Masjid, sampai Jenderal muncul, lalu di bidik. “Aaaahh… jeritan kohler saat sebuah peluru melesat tepat mengenai dadanya dan kohler pun tewas” kematian sang jenderal membuat pasukan Belanda panik, dan mereka gagal menguasai Mesjid Raya Baiturrahman.

Beberapa tahun kemudian Belanda menanamkan pohon geulumpang di lokasi tewasnya Kohler, untuk mengenang kematian sang jenderal. Pohon itu diberi nama Kohler Boom.

“Seiring zaman pohon itu semakin menua kemudian mati. Tahun 1988, Gubernur Aceh Ibrahim Hasan menanamkan pohon jenis sama di lokasi semula, untuk penanda sejarah kematian Jenderal Kohler”, ujar Harun Kheucik Leumik (76).

Menurutnya, mayat Kohler dibawa pulang ke Jakarta dan disemayamkan dipemakaman Tanah Abang. Ketika mengadakan perluasan tanah, maka tulang belulang kohler dibawa kembali ke Banda Aceh dan dikuburkan dalam komplek kerkhof.

Ketika upacara penguburan pada tahun 1978,  militer Belanda Kolonel Linsel yang mengantarkan jenazahnya  mengatakan, bahwa komplek kuburan ”Peucut” ini disatu sisi adalah sebagai makam para pahlawan (Aceh) yang merupakan lambang kepahlawanan. Begitulah kembalinya sang jenderal yang membuka perang Aceh yang terjadi pada 105 tahun silam, kemudian diterima tanpa dendam oleh rakyat Aceh.

Saat Masjid Raya Baiturrahman direnovasi, pohon (geulumpang) tempat  tewasnya Mayor Jenderal Kohler ditebang oleh pekerja proyek perluasan Mesjid Raya Baiturrahman, begitu juga dengan monumennya.

Pemerhati sejarah dan adat Aceh H. Harun Keuchik Leumik, mengaku sangat kecewa dengan penebangan pohon yang menjadi saksi sejarah tersebut. Ia setuju dengan proyek perluasan Masjid, tapi tidak dengan penghilangan bukti sejarah perang Aceh.

“Seharusnya pohon (geulumpang) tidak perlu ditebang atau dipindahkan, karena tindakan tersebut  dapat menghilangkan nilai sejarah yaitu  fakta tentang kepahlawanan Aceh,” tutur Harun.

Kini setelah Masjid Raya Baiturrahman direnovasi, monumen kohler didirikan kembali disudut pagar masjid, sekitar 5 meter tidak jauh dari tempatnya semula begitu pula dengan pohon Kohler. Akan tetapi, letaknya tidak stategis hingga masyarakat yang berkunjung ke Mesjid Raya Baiturrahman sebagian besar tidak mengetahui posisi pasti monumen tersebut yang tersembunyi didekat pagar, disamping pintu masuk bawah tanah sebelah utara. Tidak adanya petunjuk arah mengenai monumen Kohler di kawasan mesjid juga menjadi sebab masyarakat tidak mengetahui letak monument tersebut.

Pembaharuan monumen Kohler yang baru-baru ini kurang diexpose, membuat banyak dari masyarakat Aceh tidak mengetahui bahwa monumen kohler sudah di bangun kembali pasca dihancurkan saat renovasi mesjid pada tahun 2015 silam. Namun, fakta-fakta sejarah masih dapat ditelusuri dengan adanya makam jenderal Kohler yang letaknya dipemakaman Kerkhof. (Rahmat Firdaus/azs)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *