Indahnya ‘Krueng Daroy’ Rafli Kande

oleh -738 kali dilihat
Krueng Daroy yang melintasi Taman Putroe Phang, Banda Aceh

ACEHWOW.COM, BANDA ACEH – “I Krueng Daroy lam glee mata ie, ie jih dilee di tengoh Banda” (Air sungai Daroy dari hutan mata air, air nya mengalir ke tengah kota Banda Aceh). Itulah sepenggal kutipan dari lagu Aceh yg fenomenal dan sarat unsur nilai sejarah. Lagu berjudul ‘Kreung Daroy’ tersebut dibawakan oleh Rafli Kande seniman Aceh yang sekarang menjadi senator, Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Aceh 2014-2019 di Senayan.

Alunan musik etnik dan perpaduan lirik sarat nilai sejarah berpadu dengan suara khas Rafli Kande, begitu orang Aceh menyebutnya. Jika saja kita artikulasi semua lirik, maka akan tergambar sebuah cerita tentang kemegahan sebuah Krueng Daroy.

Di lirik lain digambarkan; “Krueng Daroy jeut keu seujarah, bak putroe kamaliah manoe meu upa, Iskandar Muda geukuh krueng nya, tempat meuseunang putroe di raya, Iskandar Muda geukuh krueng nyan, tempat meuseunang hai raja di raja”. (Sungai Daroy jadi sebuah sejarah, putri raja mandi dengan senangnya, Iskandar Muda membuat sungai itu tempat bersenang-senang putri, Iskandar Muda membuat sungai itu untuk bersenang-senang raja-raja.) Bahwasanya Krueng Daroy ada pada masa kerajaan Aceh dibuat khusus untuk Putroe Phang, putri kerajaan Pahang yang dinikahi oleh Sultan Iskandar Muda.

Berbicara masalah keindahan Aceh terutama Krueng Daroy, sudah sangat indah dalam setiap bait-bait lagu tersebut. Dan kini, setelah periode 1600 Masehi berlalu sejak masa kejayaan Kesultanan Aceh Darussalam, keindahan itu pun turut pudar. Bagaimana tidak, letak sungai yang membelah kota Banda Aceh menjadi momok bagi tata kelola nilai-nilai situs sejarah terhadap hegemoni pembangun Ibu kota Aceh terhadap perkembangan zaman.

Bukannya situs sejarah ini tidak tertata, hanya saja menata diantara keriuhan sibuknya kota dan tak bisa lepas dari tangan-tangan jahil, juga sebuah tantangan dalam menyelamatkan keindahan Krueng Daroy. Ibarat simalakama, mencagar budayakan sejarah atau membangun peradaban, itulah tantangan dari setiap tampuk kepemimpinan di ‘Koetaradja’ ini.

Baik pula dihadapan seorang pemuda yang pandangan nya lurus menatap air Krueng Daroy yang kehijauan, tidak terlihat seperti ‘kulam kaca’, kesal bercampur resah akan kondisi terkini yang sangat berbeda dari masa sang Sultan. Sekali-kali berpaling ke arah pepohonan yang menjatuhkan daun-daunya sembari ditiup oleh angin sepoi-sepoi. Tampak kumuh, baik di sungai maupun ditaman Putroe Phang. Sebuah taman yang dilintasi oleh Krueng Daroy.

Celotehan terdengar unik, juga terdengar bagai tamparan keras bagi siapa saja yang lupa akan menjaga sejarah.

“Pu krueng lagee nyo, hana meuhi kulam kaca lagee bak lagu” (Apa sungai begini, tidak seindah pada lagu Rafly Kande). Kata Eri Chandra, Pemuda dengan perawakan sederhana dan pecinta sejarah, yang sedang menempuh pendidikan di UIN Ar- Raniry.

Lagi-lagi ia tak dapat menahan kekesalan saat ditanyai bagaimana solusi terbaik menurutnya. Ia hanya menjawab simple, “Nyan urusan pemerintah pikee kiban cara jaga”. (Itu kewajiban pemerintah menjaganya), Tutupnya.

Sekali lagi, keindahan lagu Rafly Kande dan tergambar layaknya kenyataan. Semoga saja, keindahan Krueng Daroy, tidak hanya kita nikmati melalu lirik lagu milik nya di masa mendatang, tugas dan tanggung siapa saja untuk menjaga sebuah nilai sejarah, baik itu saya, dia, mereka, dan yang punya Tahta. [Adi Novanta/ Lra]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *