Mubes MAA, Selain Terpilih Prof Farid Wajdi sebagai Ketua, Juga Prserta Menetapkan tim Formatur

oleh -55 kali dilihat

ACEHWOW. COM-Mantan Rektor UIN Ar-Raniry Darussalam Banda Aceh, Prof Dr H Farid Wajdi Ibrahim,MA (foto) terpilih sebagai ketua MAA provinsi Aceh untuk periode 2020-2025, dalam Musyawarah Besar (Mubes) lembaga majelis adat dimaksud, Jumat (27/11) kemarin.
Setelah memperoleh 23 suara dan unggul atas calon lainnya Tgk. Yusdedi, yang hanya mendapat 13 suara dari 36 peserta Mubes asal Kabupaten dan Kota, serta 4 suara perwakilan MAA Provinsi, namun ada 4 pemilik hak suara yang tidak hadir, sebut Muhammad Zaini, S.Sos,M.Si salah seorang unsur panitia.
Mubes yang dilaksanakan sejak, Kamis (26/11) di Grand Nanggroe Hotel Banda Aceh,
juga dibuka oleh Gubernur Aceh, Ir Nova Iriansyah, MT.
Selain terpilihnya Prof Farid sebagai ketua, dalam mubes ini juga terpilih lima anggota formatur yang akan menyusun kepengurusan MAA lima tahun depan. Masing-masing Abdul Hadi Zakaria, anggota unsur wilayah Utara dan Timur, Dr. Thalib Akbar, M.Sc perwakilan wilayah Tengah, Drs. H. Anwar Ibrahim Barat-Selatan, Drs Aiyub Yusuf, perwakilan Banda Aceh, Aceh Besar dan Sabang serta Drs. Yusri Abd Hamid anggota tim permatur dan Dr. Bustami Abu Bakar, M. Hum, anggota tim formatur dari Unsur Ahli.
“Sebagaimana sudah diberitakan sejumlah media online lainnya”.
Mubes ini diikuti oleh 36 orang peserta. Terdiri dari Plt Ketua MAA sendiri, serta 23 ketua MAA dari kabupaten / kota, 6 perwakilan MAA dari luar Aceh dan 6 tim Ahli Adat Aceh.
Pasca terpilih sebagai ketua, Prof Farid Wajdi Ibrahim yang juga Plt Ketua MAA sekarang mengatakan,
akan berusaha lebih efektif dalam menjalankan tugas dan mengatasi masalah adat yang ada di Aceh.
“Alhamdulillah ini sudah dilakukan Mubes pemilihan ketua MAA definitif. Insya Allah akan bekerja secara efektif, meskipun kondisi Covid-19. Mudah-mudahan kedepan lebih banyak kegiatan yang bisa kita lakukan.
“Tokoh masyarakat Aceh tersebut menambahkan”,
Kedepan harus melakukan pembinaan, melestarikan dan mengembangkan adat istiadat di Aceh, mengingat Adat merupakan salah satu tanda keistimewaan Aceh. Mengembangkan dan melestarikan adat dikalangan masyarakat sangat pentinh, terutama kalangan generasi muda, yang saat ini sudah babyak terlanjur terjerumus dengan adat dan budaya dari luar.
“Harapan kita kepada masyarakat, nanti kalau kita sudah eksis, kita berusaha bagaimana pun masyarakat kita ini bisa menghargai adat. Sekarang sebagiannya adat sudah amburadur mana adat yang harus diikuti dan mana adat tidak untuk ditiru”.
Dikatakan lagi Prof Farid, Adat Aceh merupakan adat yang sesuai dengan syariat Islam, tidak bertentangan hukum.
oleh karena itu, Ia berharap adat harus menjadi identitasnya rakyat Aceh, dimana.
“Identitas setiap orang itu ada, bukan kita saja. Kita dengan adat kita, mereka dengan adat mereka.
“Jadi adat kita ini identitas ke Acehan dalam semuanya. “Contohnya orang Padang, mereka membuka rumah makan Padang di provinsi lain dan luar negeri dimana- pun juga punya ciri khas tersendiri, semestinya begitu dalam mengembangkan perjalanan adat istiadad Aceh”, tutupnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *