Perkuliahan Pakai Fasilitas Pribadi selama Pandemi Corona, Ini yang Dituntut Mahasiswa UGP Takengon

oleh -37 kali dilihat

ACEHWOW.COM– Selama pemberlakuan darurat akibat pandemi Corona di tanah air sejak pertengahan bulan Maret lalu, aktivitas perkuliahan mahasiswa Universitas Gajah Putih (UGP) Takengon Aceh Tengah berlangsung seperti anjuran pemerintah, yaitu lewat sistem jaring internet (online) di rumah, namun sayangnya Mahasiswa dan Mahasiswi (MM) UGP Aceh Tengah seluruh fasilitas harus menggunakan fasilitas pribadi, seperti handphone serta paketnya tiao hari dan dialami oleh tenaga pengajar (dosen).
“Sistemnya seperti belajar lewat ruang Guru,
Dalam artian, fasilitas Kampus “mati suri” hampir dua bulan”, imbas penularan virus Covid-19 di tanah air.
Kebutuhan fasilitas perkuliahan dan permasalahan merosotnya ekonomi keluarga kami. Mengharapkan pihak Rektorat UGP Takengon dapat memberikan diskon hingga 50 persen uang SPP atau pembayaran uang kuliah Semister ini dan dikaji lagi untuk ansuran uang kuliah semister kedepanya, ungkap Sahru perwakilan mahasiswa UGP, “lewat rilis tandangan bersama, yang diterima media online ini Jumat kemarin”.
Ditambahkan Sahru, yang juga mengakui menyambung aspirasi ratusan rekan lainnya.
Maksud dan tujuan kami bukan mau mencari kesempatan akibat pandemi corona, namun
mengeluhkan pembayaran SPP yang dibayar penuh, padahal proses perkulihan tidak normal, bahkan mahasiswa menggunakan fasilitas sendiri.
Paceklik dan permasahan ekonomi, kami mengharapkan pihak Universitas UGP, pembayaran uang kuliah diberikan keringanan atau diskon, “jadi kami ingin meminta agar kiranya pihak Kampus bisa memaklumi keadaan yang terjadi, terutama masalah perekonomian keluarga dan masyarakat secara umum saat ini.
Ditegaskan perwakilan mahasiswa Universitas Gajah Putih meminta untuk pengurangan DPP, yang biasa dilunasi secara normal agar ada keringanan atau di diskon.
Mengingat seluruh mahasiswa UGP saat ini menggunakan fasilitas sendiri dalam proses perkuliahan, alias tidak ada yang menggunakan fasilitas Kampus, seperti proses perkuliahan dalam keadaan normal, pintanya lagi.
Sembari menerangkan, sekarang ini ekonomi masing masing keluarga mahasisawa UGP sangat tergantung dengen harga penjualan kopi, dimana saat ini kita lihat harga kopi, cabe dan tanaman palawija lainnya juga sangat hancur akibat terjadinya wabah corona (covid-19), alias harga panen petani bidang tersebut terus merosot (murah).
Ditambah tidak diijinkan beraktivitas diluar rumah oleh pemerintah.
Sangat kesulitan dan paceklik bagi mahasiswa, apalagi harus membayar uang SPP secara penuh.Namun sedihnya hingga sekarang pihak Kampus UGP masih menuntut mahasiswa agar SPP dibayar secara normal atau penuh seperti biasa, jika tidak mahasiswa tidak diperbolehkan mengikutti ujian pinal semister ini, keluh Sahru dan rekan lainnya.
Dengen demikian mengharapkan pihak Kampus dapat meninjau ulang tentang pembayaran normal dimaksud.
Selain itu, beberapa mahasiswa (i) mengaku, selama ini tidak kuliah diruangan Kampus seperti biasa, melainkan mengikuti matakuliah lewat ‘goole crome’, mengingat di goole crome.
Mahasiswa lebih mengerti, dibandingkan sebagian materi yang dikirim oleh dosen secara online, tutup Sahru. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *