Potong Rambut dengan Pisau Terhadap Terduga Pencuri di Pijay, “Tuai Kecaman dari Aktivis Perempuan”

oleh -16 kali dilihat

ACEHWOW.COM-Pasca
hebohnya pemberitaan dan viral di media sosial (Mensos) aksi spontan warga pekan Ulee Glee, Pidie Jaya beberapa hari lalu, dimana secara emosional sejumlah warga setempat, memotong secara paksa dengen pisau rambut terduga pencuri asal Sumatera Utara (Sumut), yang juga seorang perempuan didepan khakayak ramai.
Aksi warga yang dinilai tidak semena-semena dan mengakangi hukum tersebut, rupanya muncul reaksi dan sangat disayangkan oleh sejumlah organisasi kemasyarakatan dan aktivis perempuan.
“Juga memperlihatkan seorang perempuan yang dipotong rambutnya oleh sejumlah kaum lelaki akibat diduga melakukan pencurian dikawasan tersebut, menimbulkan banyak pertanyaan dari berbagai kalangan di Aceh”.
Perlakuan semacam itu terhadap korban sangat tidak wajar dan mengancam kerukunan antar warga yang sudah berjalan lama dibumi—yang berjulukan Seramoe Mekkah ini— seyogyanya atau sudah bersalah, sangat bijak diproses sebagaimana hukum yang berlaku, “alias jangan cepat menghakimi secara masal”.
Kebrutalan tersebut rupanya direspon oleh aktivis perempuan, juga menilai tindakan itu perlakuan yang tidak manusiawi.
Tidak terkecuali “kecaman” juga datang dari organisasi Aceh Womens for Peace Foundation (AWPF),
Dimana dalam realis yang diterima online ini, Jumat, (19/06) siang
Koordinator organisasi dimaksud, Irma Sari memandang. Seharusnya kejadian yang memalukan tidak perlu terjadi didaerah yang bersyariat, dimana tidak boleh ada di Aceh saat ini dan sampai kapanpun, mengingat di Aceh sudah berlaku hukum Syariat Islam.
“Atas nama kaum perempuan kita mengecam tindakan pelaku, sehingga menimbulkan trauma terhadap korban bahkan bisa jadi berkepanjangan”. Pesannya, jikalau ia benar mencuri silahkan saja diproses secara hukum, negara kita negara hukum dan semua kita wajib menghormati hukum yang berlaku.
Seperti Merujuk pada Qanun Aceh No 6 Tahun 2009 tentang Pemberdayaan dan Perlindungan Perempuan, Pasal 20 Ayat 1 disebutkan bahwa: Perempuan yang menghadapi masalah hukum wajib diperlakukan sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan.
Maka dari itu, Kami meminta kepada aparat penegak hukum juga menangkap pelaku pemotongan rambut dalam kejadian tersebut, juga diproses secara hukum.
Kedua, kita juga meminta untuk memulihkan trauma yang dialami korban tersebut (terduga pencuri) tutup Irma Sari singkat, yang juga statemennya didukung oleh aktivis perempuan lainnya di Aceh. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *